Jungle Survival Training

Saat ini banyak sekali kalangan muda yang tertarik dengan aktifitas outdoor, salah satunya adalah kegiatan mendaki gunung.

semenjak booming film 5 cm garapan Mas Donny Dirgantara, maka berbondong – bondong pula para pendaki – pendaki muda yang hampir setiap bulan memenuhi beberapa gunung – gunung yang terkenal indah di negri ini, seperti ; Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Rinjani di Lombok atau Gunung Gede di Jawa Barat.

Ini adalah sebuah fenomena yang sangat menarik dan sangat luar biasa, sebuah aktifitas baru yang dampaknya sangat positif bagi para penggiatnya.

Apalagi di dukung dengan adanya media sosial yang memiliki peran sangat besar. Posting photo – photo pendakian di facebook, instagram, path dan medsos lainnya sudah menjadi sebuah keharusan.

Sayangnya, dari sekian banyak para pendaki yang bersemangat menikmati keindahan alam ini, hanya sedikit yang membekali diri dengan pengetahuan dasar dasar ilmu bertahan hidup di alam bebas atau biasa kita sebut Jungle Survival Training.

Akibatnya apa?, karena kurangnya pengetahuan tentang manajemen perjalanan, ilmu navigasi dan ilmu pendukung lainnya, kerap kali terdengar berita pendaki gunung yang hilang / kesasar dan menghembuskan nafas terakhir di tengah hutan.

Saat ini seharusnya sertifikasi Jungle Survival Training sudah menjadi syarat wajib bagi para pendaki yang ingin menjelajah ke gunung – gunung yang memiliki ketinggian di atas 2000 Mdpl.

Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko kecelakaan yang terjadi selama pendakian berlangsung.

Regulasi dan perizinan pendakian juga harus lebih di perketat lagi.

Secara teori, dasar – dasar Jungle Survival Training sebenarnya cukup mudah. Terdiri dari empat huruf yang tersusun menjadi sebuah kata, yaitu STOP.

Apa itu STOP
S adalah singkatan dari kata shelt atau berteduh atau berhenti
T adalah singkatan dari kata Thinking atau berfikir
O adalah singkatan dari kata Observation atau mengamati keadaan sekitar
P adalah singkatan dari kata Plan atau rencana

Tapi masalah utama dalam kondisi tersesat adalah, bagaimana survivor tersebut memiliki mental yang kuat dan tahan banting. Tidak panik atau ketakutan ketika menghadapi kondisi terburuk sendirian di dalam hutan.

Mentallity Development adalah salah satu syarat mutlak yang harus dipelajari dalam kegiatan Jungle Survival Training.

Bagaimana caranya?, dapat dilakukan dengan simulasi bivak solo atau tidur kalong yang di kombinasikan dengan simulasi Solo Camp, dimana dalam simulasi ini peserta akan menjadi seorang survivor sejati, karena akan tidur sendirian di tengah hutan rimba yang gelap gulita.

Hasilnya?, para peserta akan lebih kuat secara mental sehingga akan tetap bisa berfikir rasional ketika mendapati kondisi – kondisi yang tidak diinginkan dalam pendakian.

Selain mental yang kuat, para pendaki juga seharusnya membekali diri dengan pengetahuan tumbuhan atau hewan apa saja yang bisa dimakan serta pengetahuan orieentasi medan menggunakan peta topografi atau GPS.

Hal tersebut mutlak harus dimiliki oleh setiap penggiat pendaki gunung sebagai pengetahuan dasar yang sangat bermanfaat ketika melakukan aktifitas pendakian.

Berikut adalah beberapa photo-photo peltihan Jungle Survival Training.

jungle survival training

jungle survival training

jungle survival training

jungle survival training

jungle survival training

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *